Line : 0811-2560-521 Showroom: Ds Bayur Rt 16, Kel. Kliwonan, Kec.Masaran, kab. Sragen Provinsi Jateng
Pewarna Batik

Pewarna Batik : Alami dan Sintesis (Langkah Pembuatan Batik Terlengkap)

Melanjutkan pembahasan mengenai langkah langkah pembuatan batik. Kali ini mengenai Pewarna Batik : Alami dan Sintesis (Langkah Pembuatan Batik Terlengkap) contohnya pabrik batik solo Rozan.

Yuk langsung saja ke topic pembahasan.

JENIS-JENIS BAHAN PEWARNA

Selain keindahan motif dan cara  pengerjaannya, unsur warna dalam pembuatan batik sangatlah penting.

Baik motif maupun warna secara bersama sama membentuk keindahan visual dan kesatuan makna filosofi.

Oleh karena itu, pemilihan warna dan bahan atau zat pewarnanya sangat penting untuk menghasilkan sebuah karya batik yang indah dan bernilai tinggi.

Pada periode awal pembatikan, dalam tradisi membatik warna yang digunakan tidaklah banyak. Warna yang digunakan hanyalah hitam, cokelat, biru tua.

Seiring dengan perkembangan zaman, warna-warna batik semakin berkembang, misalnya mulai digunakan warna merah , hijau, kuning, dan ungu.

Ada banyak bahan atau zat pewarna yang dapat digunakan untuk membatik. Namun secara umum, bahan atau zat pewarna batik tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan pewarna batik.

Perbedaan Jenis Pewarna Batik


A. Pewarna alami

untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah batik yang mengandung zat zat kimia, penggunaan bahan pewarna alami hendaklah tetap dipertahankan dalam pembuatan batik.

selain lebih ramah lingkungan penggunaan bahan pewarna alami juga akan menghasilkan warna warna batik klasik yang alami dan bernilai tinggi, baik secara visual maupun filosofi.

Bahan pewarna alami batik dibuat dengan cara mengektrak akar, batang, kulit, daun, bunga maupun buah dari tumbuh-tumbuhan.

Meskipun tidak sebanyak dan setajam zat pewarna sintesis, namun dari bahan bahan pewarna alami tersebut akan dihasilkan warna warna klasik yang sangat khas.

Ada banyak bahan pewarna alami yang lazim digunakan dalam membatik, antara lain daun the, daun avokad, daun jati, indigo, kulit dan daun manga, pace, atau mengkudu, daun andong, kelapa, putri malu, kulit secang, dan bawang merah.

  • Bagian dari daun the (camellia sinensis) yang sudah tua, setelah di ekstrak menjadi bahan pewarna akan menghasilkan warna cokelat pada kain batik.
  • Selain buahnya, daunnya avokad (persea Americana) juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami yang menghasilkan warna hijau kecokelatan pada kain batik.
  • Daun jati yang masih muda (tectona grandis) dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk menghsilkan warna merah kecokelatan pada kain batik.
  • Indigo, nila, tarum, atau tom (indigofera suffruticosa) adalah tanaman perdu yang dapat mengahsilkan warna biru pada kain batik.
  • Kulit pohon dan daun manga (mangifera indica) dapat menghasilkan warna hijau alami pada kain batik.
  • Akar pace mengkudu (morinda citrifolia) dapat menghasilkan warna mearh alami pada kain batik.
  • Daun andong dapat menghasilkan warna merah kecokelatan pada kain batik. sabut kelapa dapat menghasilkan warna krem kecokelatan pada kain batik.
  • kayu secang adalah pewarna merah pada kain batik setelah mengalami peristiwa oksidasi.
  • Bunga dan daun putri malu adalah penghasil warna pada kuning ke hijau hijaun pada batik.
  • Rimpang kunyit adalah bagian tanaman yang menghasilkan warna kuning pada batik.
  • Sedangkan kulit bawang merah menghasilkan warna jingga kecokelatan pada kain batik.

Pada pembuatan batik, bahan-bahan pewarna alami tersebut warna relative kurang awet jika dibandingkan zat pewarna sisntesis.

Namun bahan alami ramah lingkungan dan menampilkan warna warna klasik yang bernilai tinggi. Untuk merawat batik dengan bahan pewarna alami, pada zam dahulu masyarakat menggunakan pembersih alami berupa buah lerak.

Kini telah ditemukan deterjen khusus yang mampu membersihkan batik, namun tidak memudarkan warnanya.

Sampai sini

B. ZAT PEWARNA SINTESIS

Pewarna sintesis atau buatan merupakan bahan pewarna batik yang dibuat dengan zat zat kimia. Dewasa ini para seniman pengrajin batik banyak menggunakan zat pewarna sisntesis.

Hal ini selain karena mudah didapatkan dan praktis dalam penggunaanya, zat pewarna sintesis juga lebih kaya warna dan relative lebih awet dibandingkan bahan pewarna alami.

Namun, zat zat pewarna sintesis ini kurang ramah terhadap lingkungan. Zat zat pewarna sintesis yang banyak digunakan untuk membatik antara lain napthol, indigosol, dan rapid.

Napthol merupakan zat pewarna sintesis yang banyak digunakan dalam pewarnaan kain batik dengan teknik celup. Napthol terdiri dari dua bagianyang memiliki fungsi berbeda, yaitu napthol dasar dan pembangkit warna.

Penggunaan napthol dasar yang sering disebut penapthol ini, dilakukan pertama kali dalam pewarnaan. Pada tahap pencelupan pertama ini, warna belum tampak pada kain batik.

Pada tahap kedua pencelupan menggunakan garam diazonium yang berfungsi sebagai pembangkit warna.

Pada pencelupan yang kedua ini warna yang diinginkan baru muncul pada kain batik.

Indigosol merupakan zat pewarna sisntesis ( synthetic dyes )yang biasa digunakan untuk menghasilkan warna warna yang lembut dalam pewarnaan kain batik.

Indogosol dapat digunakan baik dengan teknik celup maupun colet atau menggunakan kuas.

Sama halnya dengan napthol, pada penggunaan indigosol juga membutuhkan dua kali pencelupan. Pencelupan pertama sebagai pewarnaan dasar, sedangkan pencelupan yang dua untuk membangkitkan warna.

Warna yang diinginkan akan muncul setelah dilakukan oksidasi, yaitu mencelupkan kain yang telah diberi indigosol kedalam larutan asam sulfat, asam klorida, natrium nitrit.

Rap merupakan zat pewarna sintesis yang biasa digunakan dalam pewarnaan kain batik dengan teknik colet.

Rapid terdiri dari campuran antara naphtol dengan garam diazonium yang distabilkan. Sedangkan untuk membangkitkan warna biasanya diguanakn larutan asam sulfat atau asam cuka.

Selain ketiga zat pewarna sintesis itu, dalam pewarnaan kain batik juga sering digunakan zat pembantu.

Tujuan penggunaan zat pembantu ini adalah untuk mempertajam warna yang dihasilkan zat pembantu yang sering digunakan anta lain caustic soda, soda abu, TRO, teepol, tawas, kapur, obat ijo, dan minyak kacang.

 

MALAM ATAU LILIN


Malam atau lilin dalam bahasa inggris di sebut wax. Malam atau lilin termasuk golongan lemak berbentuk padat yang di produksi secara alami.

Malam diperoleh dari ekspresi tumbuh tumbuhan berupa damar atau resin. Sedangkan yang bersumber dari binatang, malam berasal dari sarang tawon atau lebah.

Malam merupakan salah satu bahan baku penting dalam pembuatan batik, terutama batik tulis dan batik cap.

Fungsi pengguanan malam dalam pembuatan batik ini adalah untuk menutupi atau merintangi bagian tertentu dari kain agar tidak terkena zat atau bahan pewarna.

Dahulu lilin lebah dipakai sebgai satu satunya bahan penutup atau perintang warna dalam pembuatan batik.

Namun, dengan berkembangnya industry dan pengolahan minyak tanah, saat ini banyak dipakai malam atau lilin buatan pabrik berupa parafine, microwax, dan lain lain.

Prinsip kerjaantara malam dengan zat atau bahan pewarna dalam pembuatan batik adalah memanfaatkan sifat tolak menolak, seperti minyak dengan air.

Malam mengandung minyak sedangkan pewarna mengandung air. Dengan demikian, gambaran atau motif yang diberi malam atau lilin menggunakan canting tidak akan bisa tembus oleh zat atau bahan pewarna.

Malam yang digunakan untuk membatik ada tida jenis, yaitu malam klowong, tembok, dan bironi.

Malam klowong digunakan untuk mempertegs pola dengan cara melekatkan malam pada motif yang sudah dibuat.

Malam tembok digunakan untuk membuat blok atau mengisi bidang yang luas pada sebuah pola. Sedangkan, malam bironi digunakan untuk menutup warna biru serta isen-isen.

Silahkan Tanya Tanya Dulu !!

Jangan Sungkan Sungkan Untuk Hubungi kami


Untuk lihat GALERI KAIN BATIK >>> KLIK DISINI

Untuk melihat proses produksi kain batik kami >>> KLIK DISINI

WhatsApp Chat Via WA